keris keraton jogja

Keris simbol keraton yogjakarta

SABDA Raja yang dikeluarkan oleh Sultan Hamengkubuwono X berisi lima topik utama termasuk perubahan judul khalifatullah, Buwono adalah Bawono judul, menyatakan sedasa sepuluh, perjanjian akan mengubah antara pendiri Mataram Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan dan sempurna dua warisan penting Keris Kanjeng Kiai Ageng Kopek dan Kanjeng Kiai Ageng Joko Piturun.

BACA JUGAKeraton Yogyakarta Wisuda pertemuan 168 Abdi DalemProsesi Kereta Pahlawan tahun ini Lebih suci Keraton Yogyakarta Dua hari penutupan untuk warisan
Brandconnect
Tip untuk wajah Anda sementara Selfie di Hari Valentine terlihat muda dan menawan
Kata raja kemudian meningkatkan kelebihan dan kekurangan baik di dalam maupun di luar istana.

Setelah pembangunan dilihat di lapangan, Sultan memberi lanjut meliputi penjelasan dari Raja Firman, yang sebenarnya hanya tiga poin, perubahan judul khalifatullah adalah panotogomo, judul perubahan Buwono adalah Bawono, dan penyebutan topi dan sepersepuluh.

Meskipun Sultan telah dikoreksi isi Firman Raja sudah banyak tersebar di masyarakat, ada poin dari Firman Raja yang menarik perhatian penulis, bahwa Sultan, posisi dua keraton utama -kemenangan, yakni Kanjeng, belum menjelaskan Kiai Ageng Kopek dan Kanjeng Kiai Ageng Joko Piturun.

Dua pusaka berupa keris (tersangka) adalah dua istana yang paling penting yang memiliki nilai penting dalam legitimasi kekuasaan dan proses suksesi kekuasaan di Keraton.

Warisan bersejarah yang menentukan

Kanjeng Kiai Ageng Kopek dan Kanjeng Kiai Joko Piturun adalah keris utama di Keraton Yogyakarta, yang hanya bisa dipakai oleh Sultan.

Judul Kanjeng Kiai Ageng menganut dirinya diberikan ke pusaka yang secara supranatural dianggap sebagai kekuatan paling kuat.

Keris Kanjeng Kiai Ageng Kopek diyakini telah dibuat pada masa Kesultanan Demak dan dulunya dimiliki oleh Sunan Kalijaga, yang kemudian diturunkan ke raja-raja Mataram berikutnya.

Kristal Bintang Tungeng Sanghapur memiliki peran sejarah besar karena ia melambangkan pembagian wilayah Mataram di dua, Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, dari Pakubuwono III ke Pangeran Mangkubumi yang menjadi Sultan pertama Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono Saya menjadi

kristal itu diberikan langsung oleh Sunan Pakubuwono III ke Pangeran Mangkubumi setelah perjanjian Giyanti di Jatisari (1755), mantan gubernur VOC Nicholas Hartingh disaksikan.

Keris Kanjeng Kiai Joko Piturun lebih dikenal sebagai salah satu instrumen legitimasi bagi penerus sultan yang bertakhta di Istana Sultan.

Berdasarkan Babad Ngayogyakarta, Keri Kanjeng Kiai Ageng Joko Piturun menemukan Pangeran Mangkubumi saat evakuasi di wilayah Gunung Sindoro.

Suatu malam ia melihat sinar yang datang dari bawah tumpukan bulu burung.

Setelah Prins Mangkubumi telah membuat tabung, di bawah tumpukan dengan bulu burung, ada keris dengan dinding dhapur kristal yang kemudian dibawa dan diberi nama Kanjeng Kiai Ageng Joko Piturun.

Bersama Kanjeng Kiai Ageng Kopek, Kanjeng Kiai Ageng Joko Piturun adalah cikal bakal sejarah dan legitimasi kekuasaan atas kelahiran keraton Yogyakarta.

Saat ini, dua pusaka kerajaan tersebut tersimpan bersama pusaka utama lainnya di tempat khusus, yaitu di Ndalem Ageng Prabayeksa.

referensi : jual keris , tokopedia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *